Senin, 24 Maret 2008

The Art of Over Training

The art of over-training.

Nonton film super-size Me-nya Michael Moore, tentang McDonalds dan semua downsidenya, jadi inget sama sebuah quote yang dulu terpampang megah di bemo corner, sudut bemo basa indonya, di jalan legian (bukan legian street), kuta-bali, sebuah quote di billboard Quiksilver Pro, yang berbunyi “balance is everything.”
Yup, yang seimbang itu penting, yang selaras, in balance with surrounding, yang ngepas, ga berlebih itu baik, bahkan segalanya, kata billboard itu.

Makan ga berlebih, ga bakal ada masalah dengan lambung, dan all those things inside. Ga bakal ada masalah dengan kolesterol, napas ngap-ngapan, ukuran celana ga pas, hingga bau badan..(beneran nih..:p )

Semuanya ga berlebih, maka hidup itu akan selaras.

Namun, sekali lagi terkadang selaras ga akan terasa cukup, bahkan selaras itu terasa ga imbang, ga memenuhi letupan-letupan katup adrenalin di tubuh kita. Bahkan sesuatu yang ngepas, yang standard, yang rutin, yang omigod, mediocre, pasti terasa engga lo banget kata MTV.

Inget kata selaras, hal pertama yang melintas dalam pikiran aku adalah: dull morning, bangun dengan perasaan kuyu, secara otomatis ke toilet, minum air putih, mandi, dan bikin kopi. Yang tumpul, yang layu, yang ga ceria. Ga ada challenge.

Memang, semuanya harus pada porsinya, selaras, hubungan kita dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tuhan (tri hita karana, betul ga sih? .. ) otherwise, seperti yang terjadi belakangan ini, pemanasan global, tenggelamnya pulau-pulau kecil, dan banyak hal mengerikan lainnya. Jika mau nebang, harus mau nanam.
Tapi jika hubungan kita dengan semangat kerja, dan produktivitas, dan motivasi, maka alangkah ga benarnya, filosofi semua sudah ada porsinya, menurut aku, memang there is no such thing as perfect thing, perfect body, perfect government, perfect combination (kecuali proporsi agung Da Vinci), perfect policy, karena pasti ada plus, ada minusnya, pasti ada yang negatif dari sekian hal yang positif, tapi semangat semua sudah ada porsinya, semangat “nrimo” ini adalah semangat yang salah, semangat yang kalah, semangat orang terjajah. Kita, human being, makhluk berakal, haruslah terus melakukan inovasi terhadap diri sendiri, memperbaharui diri sendiri, keep us up to date, sehingga kita telah melakukan klaimisasi penting, yaitu kita bukanlah generasi pe”nrimo”, yang nerima aja.

Selaras berarti sempurna, (nyanyi bentar akh: kau begitu sempurna.. Andra & The Backbone hehehhe), perfect balancing, yang disukai orang-orang akunting, dan team finance di perusahaan gw (how the hell i suppose to get a receipt at small warong? Hihaihaiha). Yang mana, satu-satunya dari sekian hal yang menurut gw “penting” di kampus ekonomi dulu adalah bahwa THERE IS NO SUCH THING AS PERFECT COMPETITION, karena pasar persaingan sempurna, hilangnya invisible hands, campur tangan pemerintah dari pasar itu, akan berakibat pada penjajahan gaya baru, yaitu tunduknya kepala kita terhadap kaki-kaki ekonomi gurita raksasa Negara Madjoe,(atau trans national corporation) alias Neoliberalisme.


So, menurut gw, perlu banget sekali-sekali untuk “disturbing the peace” motonya clothing SMP (sex, money, power), sekali-kali untuk lompat pagar, sekali-kali untuk merubah kebiasaan, mengubah kanan jadi kiri, keluar untuk masuk, dan turun untuk naik. Sekali-kali dengan spirit semangat adrenalin, jiwa muda, dengan energi lebih, jiwa-jiwa yang punya jaman, haruslah memompa, giving everything their got, untuk melakukan sesuatu yang menurut mereka, mulia dalam kadarnya.

Ketidakselarasan ini yang gw maksud. LOMPAT! JuMP UP!
Artinya mengejar mimpi kita, engga nerimo, dengan sepenuh tenaga, sekuat tenaga, dengan power penuh di tangan dan suara menggelegak dan bara api di dada, merubah keselarasan, living our dreams.
Ketidakselarasan ini yang gw maksud.
Chaos.
Dengan Chaos untuk mencapai Order.
Inilah seninya overtrained, overworked, to become over the top.

(jakarta, 21.27 malem, while someone is transiting on east java airport, and “spaceboy-smashing pumpkins” is on the air)