Senin, 24 Maret 2008

Sepenggal Kisah Lama

Semua kata yang bisa terucap sudah terucap.

Semua dalil dan kaidah dan retorika tak terbantahkan, sudah jadi argumentasi basi.
Semua ON/OFF dan OFF dan OFF dan ON dan OFF lagi terus terjadi bagai pengulangan Sisifus.

Semua yang bisa terasakan, sudah terasakan.

Namun sekali lagi, siang itu, semua angkasa menyusut jadi satu, semua burung merah muda terbang berlarian membentuk lingkaran lembayung senja, dan terbang melayang membentuk jantung dan hati dan nun jauh disana panah yang tajam bagai sembilu.

Kembali, inilah moment dimana kamu berbinar-binar menceritakan mimpi-mimpi kamu dan aku Cuma terpekur menatap mata coklat kamu.
Kembali, bengong menerawang keluar jendela resto fast food di melawai plaza.

Semua yang bisa terasakan, kembali terasakan, dua kali, tiga kali, seratus kali lipat.

Mungkin ini ya, yang dirasakan sang ksatria saat menatap sang putri, atau malah si bintang jatuhnya? Karena si putri sendiri telah menjelma jadi bintang jatuh. Dan si ksatria terbakar berpendar-pendar.

(pojokan antara billboard iklan, dan kenyataan; sore hari, saat kamu menunggu Damri)