Jumat, 09 November 2007

achtung.. ngedumel

achtung.. ngedumel

[soundtrack: rum raisin chocolate ice cream]

Yup..



Kondisi: abis ujan, overwhelming feelings that beats orgasm :)



Ok.. lets begin..



Belakangan ini gw dipenuhi oleh rasa muak, karena di belejeti oleh statistik. Eneg yang membuat your inside organ jumps into your throat. Get sick sama orang-orang munafik, dan back stabber, yang banyak mulut cuap cuap soal demokrasi, tapi takut sama nasi di piring, dan punya mentalitas birokrat dan tentara, atau get sick sama orang-orang yang sebenarnya “ga berkemampuan”tapi boasting around, kaya mereka yang own the world. Tapi itu sih menjadi biasa, ketika belakangan ini, dimulai dari aksi-aksi anti globalisasi di bali sono, sampai kemarin-kemarin ini.



Yup, kebencian yang bukan rasis, tapi memang sih melakukan pendekatan terbalik dalam generalisasi, tapi memang menjadi semacam kenyataan bahwa bangsa kita sebenarnya masih terjajah secara mentalitas, huehuheuh ga perlulah ngutip Gramscy, yang bukunya dicuri orang-orang yang melakukan praktek dominasi dalam kehidupan mereka sendiri, tapi sekali lagi jadi eneg karena statistik membuktikan bahwa kita masih belum mampu untuk berdiri sendiri, masih terlalu kagum sama expat-expat, masih belum percaya pada kemampuan generasi muda, unless mereka lulusan “luar negeri” sekalipun di nagri orang tersebut, mungkin masuk di kampus unkown, with GPA zero point to four, or even jadi eXtacy dealers, tapi once go back to these islands we called nation, than peoples starting to respect them, kaya di film idiocracy, orang yang paling bodoh tend to idiot ternyata di future jadi yang paling pintar karena di future semua kemampuan otak manusia lebih turun lagi, (watch KORN clips and laugh your heart off or even watch IDIOCRAZY ).



Ga hate kaya lagunya NOFX, tapi just hate the way they present themself, and more to ourselves, who always positioned ourselves below em.



Aku pernah baca bahwa Dulunya peradaban itu actually di mulai dari Timur, dan kemudian dijarah dan dikembangkan oleh Barat, tapi kenapa hingga sekarang ini, in this part of Eastern society, belum adanya perkembangan-perkembangan yang berarti, bahkan we, our peoples, menjadi below them secara nyata lewat buruh-buruh migran, bahkan hingga ke negara serumpun kita.



Sambil merenungi hal ini gw coba berjalan, ada lagu Starlight dari Muse di earphone gw, dan sampailah di Pom Bensin Shell, yang bersih, dan ramah, dan start from zero counter, dan ngisi angin ban gratis. Memang ironis, setelah pom bensin Belanda ini mulai merambah dengan unjuk gigi profesionalismenya, maka barulah Pertamina kebakaran jenggot, dengan program pasti-pasnya.. Singkat cerita, gw isi bensin, dan membayar sesuai dengan yang diisi dan dimintakan dan diluar pecahan bulat, maka gw menggunakan uang receh 500 rupiah. But tanpa disangka penjaga pom bensin Shell, memberikan senyum sinis, sambil menerima uang tersebut. Aku garuk-garuk kepala dan langsung pergi dari situ sambil membuat mental note.

(mungkin to compete langsung ga berhasil, maka our nation melalui our peoples akan mencoba merusak sikap profesionalisme perusahaan asing yang notabene true, hmmm)

Away from Shell, menuju sebuah counter pulsa, ini adalah counter diluar counter resmi perusahaan telko tersebut. Ketika menerima kembalian, tanpa pikir panjang gw langsung bilang terimakasih dan pergi, ga taunya dengan sangat tidak ramah, si penjaga toko marah dan bilang bahwa kembaliannya lebih. WTF, its your F@cking Fault..!! no wonder.. ckckck, jika mau jadi petty borjuis, be a good petty borjuis, watch and learn.. FYI Customer is A KING!!!



So, berbekal 2 experiences itu, gw langsung pulang, merenung bentar sambil menyeruput my evening coffee. Dan ada berita soal BULLYING dan GENG MOTOR yang baru muncul lagi belakangan ini. Halah, duh generasi muda kita, apakah mereka juga sudah “menjajah” pemikiran generasi muda kita lewat film-film itu?



SO maybe, perlu ada sebuah perubahan sikap mental yang luar biasa, yang lebih dari sikap profesionalisme yang kerap didengungkan itu., untuk membangun our nation, our country. Dan ada yang berasa hilang di bagian tubuh gw yang bernama hati, karena untuk sekali ini, gw percaya statistik, dan bahwa akan sangatlah sulit bagi kita untuk berdiri sejajar dengan “mereka” oknum bangsa-bangsa asing, karena dari sikap mental massa akar rumput kita hingga keluarga-keluarga kita, masihlah punya mentalitas feodal, yang kata Gandul, merupakan warisan Orde Baru juga.

So jadi mungkin, Orde Baru dan keluarga-keluarga penghamba bangsa asing itu memang ga pernah intended untuk menjadikan kita bangsa yang maju??



Aku berpikir sambil geleng-geleng kepala dan menyeruput kopi hitam produksi asli bangsaku..