Minggu, 04 November 2007

Road Block..

Road Block

Anger ..hostility towards the oposition (RATM-Anger)

Quite surprising, buat aku, yang merupakan bagian dari Old Skool Family di Indo ini, bahwa ternyata masih terdapat dan (banyak) terdapat nilai-nilai lama yang dianut dalam keluarga di Indo.

Dan sialnya, nilai-nilai lama itu adalah nilai yang negatip. Yang benar-benar mencerminkan kediktatoran keluarga masa lampau, yang begitu berkuasa atas hidup dan matinya si anak, dan seolah mengetahui batasan yang jelas antara baik-buruk, benar-salah, dan neraka-surga.

Pemberontakan di kampus-kampus di Prancis sono dulu jaman 60’an, hingga Gerakan Yang Katanya Gagal 98 di Indo, pernah dilakukan sebuah penelitian yang akhirnya menyimpulkan bahwa rata-rata mahasiswa yang terlibat aktif di gerakan tersebut, menentang kediktatoran orang tua mereka pada mulanya.

Nano Technology, Fiber Optic, Bush is a liar, ternyata tidak semata-mata menjadikan millenium ages ini kemajuan bagi beberapa gelintir mereka yang hidup di jaman batu kemajuan teknologi informasi.

Seperti ruang-ruang tengah jam 4 sore di Yaman Selatan, dimana dominasi kaum laki-laki yang bersantai dan menghisap shisha, begitu kental disegala pelosok, sedangkan kaum wanita berada di belakang, terpinggir, dan terlupakan, terpanggil hanya ketika diperlukan untuk melayani. Demikian juga hal yang gw termui dalam sebuah sosok keluarga di sebuah kota di republik ini.

Sedemikian hingga jika wartawan Jakarta Post yang ngeliput Yaman itu menemui keluarga inipun dia akan terhenyak, karena stone age masih ad di bumi manusia ini.

Kekentalan nilai budaya warisan leluhur yang sangat dibenci para tokoh Pergerakan Indonesia. Nilai budaya warisan leluhur yang sebenarnya merupakan nilai-nilai pembodohan bangsa, warisan kolonial, atau bahkan warisan jaman kaisar dulu di China. Ada banyak sekali pembahasaan yang dapat kita salin di sini, mengenai sebuah kata yang sama yaitu “pembodohan terstuktur.”

Karena: Kaisar atau kerajaan puritan China, Orde Baru, Rejim Korea Utara, Stalin, Para bangsawan dan kardinal Geraja Katolik Abad Pertengahan, hingga orang-orang bule pertama yang menginjakkan kaki di bumi para Indian, menggunakan bahasa ini, menciptakan warisan leluhur, adat KeTimuran yang tolol, hidup untuk Surgawi, Hidup untuk Pemimpin Tertinggi, dan yang lain daripada itu disebut heretic, menyimpang, subversif, hingga kontra revolusioner.

Dan herannya, dengan loyalitas yang hampir sama ga masuk akalnya dengan kesetiaan para prajurit Jepang yang bertahan hidup di Hutan Kalimantan, 20 tahun setelah Hiroshima dan Nagasaki, dan yakin bahwa the war is not over, masih ada di jaman serba cepat, di jaman ketika milyaran dollar dapat berpindah dari satu negara ke negara lain, atau dari produk dan perusahaan ke barang dan jasa, dan perusahaan lainnya dalam hitungan detik, di jaman ketika, ada beberapa jet yang melebihi kecepatan suara, di jaman Smart Phone, di jaman dimana petani teh sudah mengunakan fasilitas internet, masih ada keluarga-keluarga terbelakang jaman batu yang memikirkan how to safe their own ass, how to build their family fortune based on trickery, how to press your children to become your moneymaker, even if it means to sell them, and forced them to work in sweat shop factory.

Forget China, dengan buku-buku Inside Beijing or so, yang menggambarkan kebobrokan dibalik kemegahan Beijing, Forget India, dengan child labornya, Forget Thailand dengan sex under agenya. Indonesia tetap ga luput dari yang namanya sebuah usaha kebodohan terstruktur yang seharunya telah selesai diperangi jaman Soekarno dulu, or pupus dengan sendirinya dengan kemajuan Teknlogi Informasi.

Dulu, jika tidak dengan semangat yang tinggi untuk memerangi pandangan masyarakat mengenai kehidupan di surga, pada Jaman Kegelapan, maka Renaissance di Eropa ga akan pernah terjadi.

Jika tidak dengan sebuah revolusi at all costnya Mao, dengan Gerakan Jauh ke Depan, dan Revolusi Kebudayaan yang keji, maka Opium masih sangat menghancurkan China, dan budaya leluhur yang bodoh masih akan hidup di rumah-rumah di China.

Jika tidak dengan semangat ga kenal lelah, ngelupain kuliah, dibenci orang tua, dicap mahasiswa pembangkang, maka Orde Baru masih tetap berkuasa.

Maka dengan semangat yang sama, seharusnya pembodohan, ketololan, penghambaan kepada modal asing, dan kemampuan intelektual Expatriat, dapat diatasi.

Penghambaan kepada devisa, yang seharusnya vice versa di berikan dengan penghargaan kepada para Buruh Migran Indonesia, tidaklah dilakukan.

Pencucian otak bahwa engga ada cara lain selain ngejual pariwisata, exploitasi alam dan budaya hingga titik nadir, penjualan anak-anak dan perempuan belia di tempat-tempat obral seks di lokalisasi yang berhubungan dengan expat dan para turis tersebut. Tengok Pelabuhan-pelabuhan di Papua, tengok kost-kostan anak-anak perempuan belia peminta-minta di Kuta Bali, tengok lokalisasi di Sanur, Batam, Dolly, dan banyak lagi, seharusnya dihapuskan dari bumi manusia kita tercinta ini.

Ada apa ini?

Jika permasalahannya dapat ditelusuri hingga ke akar yang terdalam, dimana root ini tercipta yaitu di keluarga, maka seharusnya para kepala Keluarga yang TIDAK berhasil menanamkan nilai-nilai luhur SELF RESPECT, BERDIRI PADA KAKI SENDIRI, dan SEMANGAT BERKETUHANAN seharusnya di Tembak mati. Dengan 32 team penembak jitu, atau malah dipenggal, darahnya digunakan untuk mencuci bukit, tubuhnya jadi makanan burung pemakai bangkai, dan kepalanya dikecilkan dan digantung di tombak-tombak sebagai bukti orang-orang gagal yang merusak bangsa! (dapat ide dari Apocalypto hueheuhe)

Keluarga-keluarga yang tidak bisa menciptakan sebuah iklim kasih sayang yang ternyata telah terbukti making the world goes round, seharusnya dikirim ke kamar gas berisi belasan pitbull dan roh tertawa, karena mereka secara ga langsung telah berperan dan punyal andil dalam kehancuran puluhan juta generasi penerus bangsa kita ini,karena tidak mengajarkan kasih sayang, adalah notabene mengajarkan kebencian, mengajarkan korupsi, perampokan, pemaksaan, pemerkosaan, pemerasan.

Jika hendak membangun Indonesia, menjadi bangsa yang perkasa, bangsa yang mampu adapt, yang mampu bertahan di tengah gempuran globalisasi dan modal asing, bangsa yang dapat survive melewati this millenium age dengan mulus, dan engga berdarah-darah, maka BANGUN DULU KELUARGA-KELUARGAnya..

BASMI PEMBODOHAN DAN PAHAM LAMA

PRIORITASKAN PENDIDIKAN dan PENGAJARAN KASIH SAYANG

Maka niscaya, kita dapat menuju ke arah tujuan akhir pembangunan yang kita dah eneg dicekokin dari SD hingga semester I kuliah.

BERANTAS KELUARGA-KELUARGA BODOH!!

HENTIKAN PENGHAMBAAN TERHADAP BANGSA DAN MODAL ASING!!

Jari tengah buat kalian, kutempuh jalan yang sama saat kalian mengancam kami..!